Thursday, March 6, 2014

I love kiddos

Memikirkan judul ini lansung terlintaslah di benakku, tingkah-tingkah lucu, unik, menggemaskan anak-anak muridku. Bahkan bukan sampai disitu saja tapi juga membuat rasa penasaran yang semakin bertambah di dalamku. 


Anak-anak selalu di kenal dengan dunia bermain. Namun, bermain bagi mereka itu adalah belajar, bereksplorasi. Anak-anak akan belajar kehidupan melalu bermain. Belajar banyak hal melalui bermain.

Dan bagiku, dunia anak juga mengajarkanku banyak hal akan kehidupan ini. Anak-anak itu apa adanya. Mereka tak perlu melukis luar mereka dengan begitu rupa, karena dari dalam mereka memunculkan luar mereka. Kalau mereka lapar, mereka akan tunjukkan lapar,

I do what I love, I love what I do

Pernah seorang berkata kepadaku, kalau aku melihat anak-anak seperti orang lain yang sedang menemukan berlian atau undian, begitulah ekspersi kebahagiaan, mata berbinar dariku ketika aku menemukan anak-anak di sekitarku.

Tak tahu sejak kapan aku mulai menyukai anak-anak dan dunianya. Tapi aku semakin menyadari bahwa setiap orang punya bakat dan bagian masing-masing, termasuk aku. Masa kecilku bisa dibilang sempurna, sempurna dengan dengan kisah suka dan duka. Sebuah kisah masa kecil yang mungkin bukan yang diharapkan oleh banyak orang. Aku pernah merasakan di manja, diajarkan banyak hal postif, disanjung dan dimotivasi. Aku pernah juga merasakan sakit dan trauma mulai dari hal lucu sampai yang menyeramkan. Pernah, suatu kali ketika aku datang cepat diantar oleh ayahku ke sekolah dan sama sekali belum ada yang datang, aku dikejar-kejar angsa sambil berlari dan menangis sekuat tenagaku yang membuatku setiap kali melihat angsa aku masih takut sampai sekarang. Aku juga pernah mengalami trauma yang sangat menyeramkan, aku pernah hampir diperkosa oleh saudara kandung tetanggaku. Dan paling membuat hidupku berubah adalah, ketika ayahku harus di panggil oleh Sang Pencipta.

Bagai mimpi rasanya, aku selalu berharap ayahku sedang pergi kerja yang jauh dan suatu saat akan kembali lagi. Memang pekerjaan ayahku adalah seorang nahkoda, pelayar dan tentu saja jelas diingatanku dia sering pergi bekerja dan akan pulang ke rumah dengan membawakan mainan baru untukku. Namun, sampai usiaku yang dewasa ini ternyata dia tak pernah pulang dan memang tak akan pernah kembali lagi.

Setiap peristiwa di masa kecil memang akan sangat membekas dan membentuk pribadi setiap insan. Namanya, anak-anak yang masih belum dewasa, belum memiliki filter menyaring mana yang baik dan buruk. Anak-anak tak pernah mengatur apa yang harus direkam dan apa yang tidak boleh direkam. Inilah ciri khas seoarang anak yang pertama-tama aku pelajari, anak dengan ketulusannya akan merekam semua yang terjadi, apa yang dia lihat, dia dengar, dia alami secara otomatis tanpa diatur.

Merasa bosan dengan pekerjaan adminitrasi di kantor tempat kerjaku sebelumnya dan karena beberapa hal mengajarku berani meninggalkan dan berani mengambil resiko untuk mengejar mimpi. Saat itu aku keluar tanpa kepastian seperti apa aku depannya, hanya harapku aku akan bekerja yang aku akan mencintainya setiap hari. Bekerja dengan passion mungkin lebih tepatnya. 

Hanya dengan obrolan-obrolan iseng namun membawaku kepada gerbang mimpi. Aku pun punya kesempatan untuk melamar di dunia anak, menjadi tenaga pengajar pendidikan anak usia dini. Mencoba mengikuti proses,  seleksi berkas, psikotest dan tes-tes lainnya aku pun dinyatakan lulus dan dapat melanjutkan ke training berikutnya. Seminggu mengikuti training dari pagi sampai malam aku sama sekali tak pernah bosan, aku begitu antusias. Aku menemukan duniaku, menemukan orang-orang dengan mimpi yang sama. Sampai-sampai saat aku ditanya hal berharga apa yang aku pelajari saat training adalah dulu sebelum aku mengikuti training aku pesimis bahkan mati rasa ketika membayangkan masa depan bangsa ini. Tapi setelah training yang aku ikuti ini aku kembali optimis bahwa masih ada harapan bagi bangsa ini. Anak-anak yang berbakat kelak akan bertumbuh membawa perubahan dan kemajuan di bangsa tercinta ini.

Satu tahun setengah sudah aku mengjerjakan panggilan ini, panggilan di dunia anak. Belum pernah sekalipun aku merasa tak tahu mau apa aku bekerja. Karena jelas di dalam diri ini untuk apa aku berkerja. Kadang, ketika kondisi yang hujan badai dan malas datang menghantuiku. Namun ketika aku melihat senyum murid-muridku, mendengar mereka memanggilku langsung hati ini kembali segar. Tak kuasa hati ini menyia-nyiakan anugrah dan kesemempatan mempengaruhi mereka dan kelak mempengaruhi dunia. Tak jarang terlintas, kan hasilnya tidak bisa aku lihat dan rasakan dengan segera namun aku yakin pasti akan terlihat hasilnya, mungkin 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 20 tahun lagi atau saat aku pun tak punya kesempatan melihatnya namun dunia pasti punya kesempatan merasakannya.

Sungguh anugrah Tuhan yang luar biasa bagiku, setiap hari aku belajar hal-hal yang baru dari dunia anak, mengembangkan hal-hal baru, berpikir dan mencoba memecahkan masalah-masalah baru. 

Tuesday, February 18, 2014

Teman Hidup

Akhir-akhir ini ada sebuah lagu yang aku sangat suka dengarinnya. Selain musiknya yang easy listening tapi lirik lagunya juga oke banget. Sangat cocok dengan yang aku harapkan, touching me banget. Padahal beberapa waktu yang lalu aku sempat trauma loh dengan lagu-lagu yang ada cinta-cintaanya. Biasalah lagi galau, putus cinta. Hahaha

Ini dia lirik lagunya :

Dia indah meretas gundahDia yang selama ini ku nantiMembawa sejuk, memanja rasaDia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenangBersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupkuBerdua kita hadapi duniaKau milikku ku milikmu kita satukan tujuBersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmuKau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenangBersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupkuBerdua kita hadapi duniaKau milikku ku milikmu kita satukan tujuBersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nantiBanyak cobaan untuk kisah cinta kitaJangan cepat menyerahKau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupkuBerdua kita hadapi duniaKau milikku ku milikmu kita satukan tujuBersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmuKau jiwa yang selalu aku puja

*Suatu saat lagu ini akan kunyanyikan untuk orang tepat :D

Bertahan SATU CINTA

Pertama kali membaca judul tulisan ini mungkin langsung terbersit sebuah penggalan lirik lagu. Saya pun kurang tahu pasti siapa penyanyinya, hanya memang sering kali lagu itu terdengar beberapa waktu yang lalu. entah itu di angkutan umum di kota saya, ataupun tetangga-tetangga komplek rumah kontrakan saya. Dan karena saya juga tidak tahu jelas tentang lagu itu tentulah saya sama sekali tak akan membahas lagunya.

Bicara tentang cinta biasanya telinga semua orang langsung peka, apalagi ini di kalangan anak-anak muda (ababil-red). Wajarlah, biasanya di umur perpindahan anak-anak ke dewasa, yang sering disebut masa muda ini akan mengalami masa-masa jatuh cinta kepada lawan jenis.

Sama halnya seperti yang seperti saya rasakan, masa muda dipenuhi dengan debar-debar halus (DDH) sampai debar-debar kasar (DDK). Mulai merasakan uniknya jatuh cinta. Sampailah ke sebuah saat dimana saya merasa sudah menambatkan hati ke satu pilihan, seseorang yang cukup lama merajai hati ini. Namun, namanya juga cinta remaja, belum abadi dan berakhir di saat saya sudah duduk di perguruan tinggi.

Setahun berlalu, mulailah seorang pangeran hati merasuki hidupku. Setelah sedikit ujian waktu dan ujian kepercayaan saya pun memutuskan menjadikannya pilihan terbaikku. Ujian jarak, waktu, karakter, kondisi bertubi-tubi sempat datang mengganggu kami dan tak mampu merobohkan selama 4 tahun. Namun sampailah di sebuah kondisi kami harus mengakhirinya.

Sebuah kondisi yang pelik bagiku, tak ada lagi orang yang harus ku tunggu teleponnya setiap waktu, tak ada lagi orang yang harus kutanya pendapatnya, tak ada lagi orang menjadi teman barbagiku. Kini, semua ku hadapi sendiri karena bagaimana pun teman bahkan sahabat tak akan dapat menggantikan posisinya. Terlalu banyak kebiasaan yang sudah berubah sekarang.

Adalagi yang memperparah kondisi aneh ini, ketika ada pertanyaan : masih sama dia kan? Kenapa?Kog bisa sih? Jujur, pertanyaan-pertanyaan itu selelu membuatku meragu akan keputusan kami. Karena mungkin bagi kebanyakan orang, aku cukup aneh karena tidak mempertahankan hubungan kami. Namun, sebuah kegelisahan hati yang tak dapat kututupi, ada yang tak layak aku perjuangankan. Maaf kalau ini membuat banyak orang bingung. Tapi keputusanku untuk menghargai perasaanku, menghargai hidupku, menghargai Tuhanku itulah yang terbaik bagiku.

Berkahirnya kisah cintaku dengannya merupakan bukti ketaatan dan kesungguhan cintaku kepada penciptaku, Tuhanku. Mungkin saat ini aku belum menekukan satu hati untuk aku bertahan di hadapan manusia. Tapi sebenarnya aku bertahan satu hati dihadapanNya. Sampai aku menemukan orang yang tepat, yang aku dan dia sama-sama bertahan di satu hati, hatiNya.

Saya berharap ketika waktunya tiba, saya tidak menyesal menikah umur sekian karena itu waktu yang tepat untuk saya menemukan orang yang tepat. Saya tidak akan menyesal saat saya menyakini dia orang yang tepat umur sekian karena itu memang waktu yang tepat bagi orang yang tepat. Tidak ada kata penyesalan untuk sebuah cinta abadi, bertahan di satu cinta.


Saturday, February 1, 2014

Month of Love, Month of Hope

Tak terasa satu bulan telah berlalu. Bulan pertama di tahun ini pun diakhiri dengan hari raya Cina atau sering disebut imlek. Namanya tahun baru, biasanya dipenuhi dengan harapan baru, resolusi dan doa-doa untuk kedepannya. Mimpi baru dengan  perjuangan yang keras untuk mencapai mimpi seperti kuda yang dikenal harus lari kencang, selayaknya tahun baru Cina ini disebut-sebut dengan tahun kuda.

Mengakhiri malam terakhir di bulan pertama di tahun ini dengan ucapan syukur untuk kemurahan Tuhan yang menemani dalam masa-masa sukar dan kesendirianku. 

Setelah subuh pertama di bulan ke dua ini menyambutku, aku melihat berbagai jejaring sosial di gadgetku. Semuanya dipenuhi dengan updatean tentang menyambut bulan ke dua ini, bulan penuh cinta katanya. Wajarlah karena di bulan ini seluruh dunia merayakan hari kasih sayang, tentu saja  banyak orang tak mau ketinggalan. Ada yang bilang, kalau hari kasih sayang itu bukan cuman sekali, tapi setiap hari seperti kata salah seorang sahabatku. Tapi menurutku memang benar berbagi kasih sayang itu harusnya tiap hari, tapi kan sangat wajar bagiku kalau kita menetapkan satu hari khusus untuk merayakannya, menghargainya.

Datangnya bulan kedua ini menegaskan bahwa sebulan telah sudah berlalu. Menjadi pertanyaan sekaligus perenungan adalah bagaimana resolusi yang telah kita buat awal tahun 2014 ini sudah kita kerjakan. Waktu terus bergulir bisa jadi tak terasa juga nanti tahun ini kan terlalui tanpa terasa dengan melupakan semua mimpi-mimpi di awal tahun.


Sunday, December 22, 2013

Roller Coaster

Suatu weekend saya dan teman-teman saya menghabiskan waktu ke sebuah wahana permainan yang ada di Berastagi, arah ke puncak dari kota Medan. Kami pergi kesana kebanyakan bukan untuk pertama kalinya, namun kami menemani teman kami yang dari jogja, yang baru pertama kalinya memijakkan kaki di pulau sumatera ini.

Hujan gerimis tak mampu mengurung niat kami untuk melanjutkan perjalanan kami. Kami tetap membeli tiket untuk masuk ke dalam wahana tersebut, Mikie Holiday Fun Land.  Bom bom car menjadi pilihan pertama untuk menghangatkan kerbesamaan dan suasana yang dingin. Walau cuman sebentar, namun sedikit mengajak kami seru-seruan. 

Lalu, kami pun melanjutkan perjalan ke dalam karena memang permainan bom bom car tadi masih di depan dekat dengan gerbang masuk. Berhubung saat itu kondisi memang sedang hujan gerimis ternyata banyak permainan yang tidak dapat digunakan. Awalnya kami sedkit kesal, namun tak berapa lama, alam pun berpihak dengan kami, hujan pun berhenti. Dan kamin pun melanjutkan seru-seruan kami.

Roller coaster menjadi pilihan kami selanjutnya, karena kami 9 orang tentulah ada 1 orang yang akan duduk sendirian tanpa ada temannya, itu adalah aku dan aku duduk yang paling depan. Perjalanan roller coaster

Saturday, December 14, 2013

Pernah

Pernah..
Jujur kecewa padamu pernah menghinggapiku
Kau pernah ajariku bermimpi
Tapi kau tak menemaniku saat ini menggapai mimpi
Kau pernah ajari aku percaya
Tapi kini kau membuat aku tak percaya lagi
Kau pernah memberiku harapan
Tapi kini kau menimbunku dalam keraguan
Kau pernah bantu aku sembuh
Tapi kini kau membuatku sakit lebih perih

Seandainya

Seandainya kau masih disini
Mungkin rasanya tak sesakit ini
Mungkin bingungnya tak selinglung ini
Mungkin deritaku cukup terbagi
Mungkin aku bisa bersandar sedikit padamu

Seandainya kau bersamaku saat ini
Bahumu bukan hanya kurasakan waktu itu
Bahumu kubutuhkan waktu ini
Pelukanmu bukan hanya kunikmati saat itu
Pelukanmu kuperlukan saat ini

Seandainya jarak tak memisahkan kita
Mungkin aku tak terlalu khawatir akan esok
Percaya kau kan ada menemaniku
Percaya akan ada terlintas di benakku
Seperti kepercayaan yang pernah kau ajarkan padaku
Percaya akan hidup ini

Seandainya kondisi tak menjadi penghalang
Kondisi aku dan kau yang tak harus bersama
Atau aku dan kau yang tak kan bisa bersama lagi
Akan aku kisahkan semuanya padamu

Seandainya kau disini
Aku tak mencari-cari seperti ini
Mencari-cari dan sadar kau tak lagi disini
Aku tak mengenangmu di semua tempat
Menoleh kesana kesini dan sadar kau tak ada disini

Seandainya kau pun tahu
Aku  torehkan ini untukmu
Sambil berharap kau membaca
Dan kau pun mengenalinya
Dan  mengerti ini adalah dirimu

Tapi..
Semuanya tak bisa
Semuanya harus aku redam sendiri
Semuanya harus aku tantang sendiri
Semuanya harus aku kejar sendiri
Semuanya hanya dengan sendiri
Sendiri..

Seandainya..
Dan hanya akan menjadi seandainya
Yang tak akan pernah terjadi
Hanya sebuah seandainya
Seandainya



Sahabat (mungkin)

Aku bertanya pada sepinya dinding kamar
Maukah engkau menjadi temanku?
Mendengar semua rintihan dan kegundahanku
Menjadi bukti air mata tak kunjung habis
Membanjiri kamar kecil ini

Aku bertanya pada ramainya orang
Maukah engkau menjadi sahabat ricuhku?
Menjadi pengisi kekosongan hidupku
Mengantarkanku ke gerbang kepuasan

Aku bertanya pada heningnya malam
Maukah engkau menjadi kawan karibku?
Menyelimuti dari semua ketakutan
Menemaniku dari semua kepasrahan

Aku bertanya pada pikuknya siang
Maukah engkau menjadi padanku?
Menopang kaki untuk berdiri tegak
Menapaki hidup yang tak ku mengerti

Maukah engkau menjadi sahabatku?
Bagai waktu yang tak pernah berhenti
Bagai waktu yang selalu hadir menemaniku
Aku membutuhkanmu sahabat...


Friday, December 13, 2013

Masihkah ada harapan?

"Bagaimana keadaannya dok? Apakah masih ada harapan dokter?" Sepenggal dialog antara dokter dengan keluarga pasien ini sering kali menjadi pertanyaan dalam sebuah keadaan yang sangat darurat, bisa juga dibilang hampir tiada harapan sehingga mengeluarkan sebuah pertanyaan apakah masih ada harapan.

Bicara tentang sakit penyakit, akhir-akhir ini sering digunakan istilah stadium untuk mengklasifikasi tingkat "kesakitan" yang sedang di derita pasien. Semakin tinggi stadium maka semakin gawat juga kondisi si penderita. Sementara berbanding terbalik dengan harapan sembuh yang semakin kecil.

Saat ini, mungkin kondisiku hampir sama dengan kondisi pasien yang gawat darurat dan membuat keluarga pasien bertanya. Namun, berbeda denganku pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang aku tanya dengan diriku sendiri dan hal itulah yang belum bisa aku jawab belakangan ini. Mencari jawaban terkadang memang begitu menyesakkan, bagai mencari jarum diantara kumpulan jerami.

Dan jika kondisi "sakit" yang ku derita saat ini dapat diistilahkan, mungkin aku sudah menuju stadium akhir. Wajarlah sepertinya harapan "hidup" bagiku saat ini hampir punah.

Dulu, aku juga pernah sakit namun itu masih stadium awal . Sehingga setelah berjalannnya waktu dengan mencoba berdamai dengan diri sendiri dan semuanya, aku pun sembuh. Namun kini, sakit itu menggerogotiku lagi, merongrong jiwaku. Bahkan stadiumnya lebih tinggi dari sebelumnya.

Setiap penderita penyakit membutuhkan seorang dokter, ahli medis yang mengerti bahkan mungkin sudah berpengalaman. Tapi, kali ini berbeda aku bukan butuh seorang dokter yang biasa. Sakitku membutuhkan seorang dokter hebat, yaitu Penciptaku dan diriku sendiri. Tak ada yang lebih mengenal kerusakanku  saat ini selain yang menciptakan aku sendiri. Diikuti tak ada yang lebih mengerti diriku daripada diriku sendiri (seharusnya).

Dokter hebat yang pertama, Sang Pencipta tak perlu lagi diragukan keahliannya. Dia tak akan pernah salah diagnosa dan tak akan pernah salah melakukan penanganan medis, tidak akan malpraktek tepatnya. Dia tak akan pernah lalai mengerjakan tugas mulia dengan tangan pembawa kesembuhannya.

Dokter hebat yang kedua, yakni diri sendiri inilah yang butuh perjuangan besar. Diri ini harus  peka terhadap segala gelaja yang sedang terjadi dan menjadi partner dokter pertama dalam mencapai kesembuhan. Sangat aneh rasanya ketika diri sendiri harus mengobati diri sendiri, dan lumrah muncul pertanyaan bagaimana caranya menyembuhkan diri sendiri yang sedang sakit.

Sakit yang aku rasakan tentulah berbeda dengan sakit medis lainnya, sakit ini lebih mengarah ke psikis tepatnya. Sehingga dokter yang dibutuhkan adalah diri sendiri, karena sakit psikis tak akan pernah sembuh total jika si penderita masih bergantung pada orang lain. Diri sendiri tak menjadi egois dalam bagian ini, diri sendiri menjadi dokter yang dapat menyembuhkan diri sendiri.

Kesembuhan adalah target perjuangan setiap penderita penyakit selayaknya diriku saat ini. Berjuang melawan penyakit dengan berdamai dengan dengan diri sendiri. Berjuang mengusir penyakit dengan menerima diri sendiri. Berjuang mengalahkan penyakit dengan memenangkan diri sendiri. Berjuang meninggalkan penyakit dengan memanggil diri kembali. Berjuang untuk sebuah harapan, harapan untuk sembuh, harapan untuk jiwa, harapan untuk hidup. Selamat berjuang dan selamat sembuh. Selamat datang harapan.

Sunday, December 1, 2013

Welcome December

Dua hari sebelum bulan yang menjadi judul tulisan saya ini, saya sudah tertergur sebenarnya. Saat itu saya sedang mengikuti ibadah Mimbar Bina Alumni, saya tersadar bahwa tahun 2013 ini akan segera berakhir. Dan yang jadi pertanyaan lagi dan lagi-lagi, apa yang sudah aku kerjakan-hasilkan sepanjang tahun ini? Kemudian, di akhir ibadah yang merupakan ibadah terakhir ini aku diajarkan kembali bersyukur untuk setiap kesempatan yang sudah diberikan Sang Pencipta dan Sang Pemberi hidup bagiku. Aku mengikuti ibadah dengan perasaan sesal di awal dan diakhiri dengan syukur dan harapan baru.


Ketika awal bulan Desember ini, tanggal pertama di bulan ini datang memunculkan berbagai macam reaksi sambutan orang. Ada yang menyambutnya  dengan candaan, harapan dan doa serta penyesalan. Semuanya tergantung dari keberadaan seseorang dan darimana dia memandang. Berbagai jenis rekasi tersebut saya saksikan melalui personal message BBM, status di facebook maupun kicauan di twitter. Tentu saja, karena desember selalu identik dengan Natal sehingga tak jarang juga yang menghubungkan sambutan kepada bulan ini dengan momen dan harapan Natal. Dan sedikit aneh bagiku setelah aku melihat berbagai-bagai respon orang terhadap bulan ini tak mampu atau sama sekali tidak menggugahku untuk mencoba menunjukkan responku lewat jerjaring sosial yang kerap kali aku lakukan sebelumnya.

Setelah beberapa jam berlalu, berbagai macam tanggapan orang-orang terhadap kehadiran bulan terkahir di tahun ini mencoba menghantuiku. Hari pertama di bulan ini yang aku lalui dengan tak seperti biasanya (lagi) *(silahkan baca di tulisan penulis sebelum-sebelumnya). Hampir seharian penuh aku menghabiskan hari dengan uring-uringan di dalam kamarku. Aku hanya keluar untuk menyeruput minuman dan mengisi asupan untuk tubuhku karena aku tak ingin sakit merongrongku. Namun sebelum hari berakhir, aku bersyukur sekali, aku mampu memutuskan untuk segera mengakhiri ke"gila"an tersebut.

Walau masih terbawa kondisi, aku mencoba mengisi waktu dengan hal yang berguna yang diawali dengan keluar rumah mencari inspirasi, mencoba beberapa perawatan rambut dan wajah (sisi wanita keluar :D) dan membaca buku  yang telah aku beli tiga hari yang lalu dari toko buku kesayanganku. Dan akhirnya aku kembali bersyukur, satu buku bisa aku tuntaskan malam ini, sebuah buku sederhana yang memotivasi aku untuk terus menulis.

Seorang sahabat pun mengirim email padaku saat aku sedang membaca buku tersebut. Dia sudah melakukan evaluasi terhadap planning awal tahun ini. Awalnya responku sekaligus yang menjadi balasan email dariku adalah aku belum berani melakukan evaluasi seperti yang sudah dilakukannya karena aku sedang merasa gagal dalam segala hal. Untungnya responku hampir sama dengan seorang sahabatku yang lain, ada teman pikirku. Namun, sambil berpikir dan mencoba bangkit aku pun memberanikan mengirim BBM kepada kedua sahabatku itu bahwa kegagalanku tak akan membuat aku berhenti. Walau bulan ini adalah bulan terakhir di tahun ini, aku tak mau menyerah. Justru, masih ada satu bulan dengan 31 hari  dengan 744 jam dan dengan 2.678.400 detik. Setiap detiknya sangat berharga, dan aku sedang berlajar tidak mau menyia-nyiakannya. Aku masih akan berjuang mengejar beberapa planning (walau tidak semua) di bulan ini, mencoba meraih mimpi di sisa tenaga ini, di sisa tahun ini dengan sebuah kekuatan yang selalu diperbaharui Sang Pemberi Anugerah di hidup kita.

You are never too old to set another goal
or to dream a new dream - C.S. Lewis

Anugerah Baru

Hati bergetir ini tak ingin menyerah
Mencoba mencari dan mengikut arah
Karena aku bukanlah seorang pasrah
Tak kan mau dikuasai amarah

Mata ini berani untuk terbuka
Tangan ini menari untuk menata
Jalan ini tetap ku bawa
Sampai akhir cerita

Berlari bukanlah solusi
Menyesal pun tiada arti
Menguras air mata memang tak henti
Tapi aku tahu dibalik hujan ada pelangi

Tak tahu jalan mana yang hendak dituju
Ataukah jalan ini tetap ditiru?
Bukan, bukan itu
Bukan jalan yang jadi penentu
Namun dengan siapakah itu
Aku pun membisu
Membulatkan tekad untuk menyatu
Aku hanya mau bersamaMu
Pemberi anugerah yang telah lalu
Pemberi anugerah baru



Saturday, November 30, 2013

Impian?

Terdungu di malam senyap
Tersesat di ambang batas perasaan
Terlarut dalam lautan asa
Terisak-isak tanpa usai
Tersakiti semakin dalam
Tak kau hirau pun aku biasa


Termangu di siang bolong
Terlintas tumpukan sesal
Terbawa arus kecewa
Tertatih bersama puing-puing kehancuran
Terbata untuk mengaku
Terbatas akan kekuatanku

Siang dan malam silih berganti
Mengikis dan menambal impian
Sedikit tertambak namun semakin besar terkikis
Tak tahu lagi apa itu impian

Aku lupa apa itu impian
Aku lupa bagaimana itu bermimpi
Terlalu banyak aku sudah tertidur
Tertidur dalam sesak
Khawatir dan takut menyelimuti tubuhku
Sesal dan kecewa menjadi bantal tidurku

Aku tertidur
Terlamu lama
Terlalu bosan
Tapi raga ini tak sanggup untuk bangun
Tak tahu untuk apa
Hanya ada satu harap
Suatu saat akan ada "bangun"
Bangun dari semua mimpi buruk ini
Bangun untuk bangkit
Walau tak tahu kapan
Aku mau bertahan menanggu bangun itu
Untuk sebuah impian hidup

Kecewa (lagi)

Hampir setiap orang atau mungkin setiap orang pernah mengalami yang namanya kecewa. Kecewa terhadapa kondisi ataupun terhadap seseorang bahkan ada yang sampai ke titik kecewa terhadap diri sendiri. Kecewa yang akhir-akhir ini menghantui hidupku. Bagaimana aku tidak hancur, aku dikecewakan dua kali dengan cara yang sama, alasan yang hampir sama, sama-sama tidak jelas. Sakit sampai mau mati rasanya, sedih sampai habis air mata, seakan-akan atau sedikit lagi aku putus harapan, aku krisis kepercayaan.

Hidup bagaikan sebuah sandiwara. Saat ini, aku merasa aku sedang bermain sandiwara, aku mencoba tegar, kuat, baik-baik saja walaupun aku sedang sakit, tidak baik, kecewa. Mencoba tersenyum menghadapi hari-hari, mencoba tegak berdiri melalui jalan-jalan hidupku. Kadang aku malu kepada mentari yang selalu tampil apa adanya, selalu bersinar. Walaupun kadang kita merasa mendung, padahal di balik awan mentari tak pernah menyerah untuk bersinar.

Peran yang harus aku mainkan saat ini merupakan peran baru, yang cukup aneh dan menyiksa bagiku. Namun, aku terus mencoba memainkan peranku dengan sekuat kemampuanku dan pengalamanku. Belajar dari pengalaman yang bukan hanya sekali terjadi dalam hidupku, mencoba melanjutkan skenario yang dibuatkan untukku. Belajar dari setiap kegagalan untuk memperbaiki peranku, berani mengejar keberhasilan sebuah kisah yang sudah dituliskan bagiku sebelum aku dilahirkan di dunia ini.

Sadar atau tidak sadar, memang di dunia peran ini dibutuhkan banyak warna. Terkadang ada duka, ada suka, ada sakit, ada sehat, ada jatuh, ada bangkit, ada kecewa, ada berpengharapan. Kalau tidak ada duka menyesakkan, maka kita tak tahu bagaimana rasanya suka, kalau kita tidak pernah jatuh kita tidak tahu bagaiman itu bangkit. Aku mau terus mencoba melanjutkan kisah hidupku ini, walau masih kecewa yang tak tahu kapan berkahir. Satu hal yang aku tahu dan percaya pasti akan ada akhirnya.

Wednesday, November 27, 2013

Aku mencari...

Ketika aku merasa lemah, aku mencari….
Ketika aku merasa lelah, aku mencari…
Ketika aku merasa sedih, aku mencari…
Ketika aku memerlukan sebuah pelukan, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan pundak untuk bersandar, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan dukungan, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan nasihat, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan pertolongan, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan teguran, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan omelan, aku mencari…
Ketika aku kebingungan akan apa yang harus aku lakukan, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan pengingat arti hidupku, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan percakapan yang membutuhkan semangat, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan tempat membagikan apa yang aku pelajari dari hidup, aku mencari…
Ketika aku perlu tertawa, aku mencari…
Ketika aku membutuhkan doa, aku mencari..
Ketika aku membutuhkan semua itu, aku  mencari…
Sahabat…


*Sahabat adalah suatu anugrah tak terduga dan tak ternilai dari Allah Sang Pemberi Sahabat dan panutan sahabat sejati

Saturday, November 16, 2013

Cemburu dan merindumu

Malam ini... Detik ini...
Aku cemburu pada sang hujan
Langit bisa melepas rindunya kepada bumi dengan hujan
Sementara aku
Aku hanya bisu menjadi saksi melepas rindu
Di saat raga ini merindu pelukannya
Di saat aku merindu wangi tubuhnya
Di saat aku merindu sosoknya 
Di saat aku merindu hadirnya
Di saat aku merindu semangatnya
Di saat aku merindu omelannya
Di saat aku merindu tingkah manjanya
Di saat aku merindu, merindu dalam kesakitan

Aku cemburu pada sang waktu
Yang menjadi teman setianya
Aku cemburu pada kerjaannya
Aku cemburu pada mimpinya
Aku cemburu pada dia
Pada dia yang sekarang bersamanya
Aku cemburu pada mereka
Mereka yang sekarang manjadi teman kisahnya
Aku cemburu... aku cemburu
Karena semuanya memisahkan aku dengannya

Cemburu ini menyiksaku
Merindu ini menyakitiku
Cemburu dan merindu pun bisa berteman 
Berteman merongrongku
Cemburu dan merindu 
Hanya aku sampaikan melalui tulisan 
Cemburu dan merindumu
Sedalam kalbu
Dalam bisu
Hanya untukmu

Teman Baru


Dulu, sebelum ini menjadi kenyataaan, membayangkannya saja aku tak kuasa. Apalagi, menjalaninya. Aneh, sakit, penat, linglung, penuh pertanyaan, seolah mimpi itulah menghantuiku setiap waktu. Dengan siang aku cukup akrab dengan hidup, dengan malam aku semakin akrab dengan asa dan sesal.

Kini, semua memang tak sama lagi dan hanya mimpi belaka kalau semuanya bisa kembali seperti dulu. Baik itu kisahku dengannya maupun kisahaku dengan mereka. Semua tak akan sama seperti dulu lagi. Aku berkejaran dengan garis waktu linear ini. Aku tak mau kalah, aku harus bisa.

Lagi dan lagi, air mata yang tak pernah habis dan tak pernah enggan menjadi teman di kisahku ini. Laptop satu-satunya temanku saat ini. Mencoba menjalani hidup baru (aneh) ini dengan tegar, mebiarkan dia dengan kisah dan mimpinya. Walaupun sakit ini terus merajaiku.

Terkadang hati ini penuh dengan sejuta semangat namun tiba-tiba bisa hati ini begitu getir dan hancur berpuing-puing. Ingin rasanya lari dan keluar jauh, seperti saat ini. Saat aku tak mau mengganggu mereka dengan cerita mereka. Karena aku sedang menampar diriku supaya aku sadar ini bukan mimpi. Aku harus hidup dengan kisahku dan mereka dengan kisah mereka. Maukah engkau menjadi teman baru yang setia padaku?

Wednesday, November 13, 2013

Dari Sabang sampai Merauke

Dari Sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia, Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu, menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.

Sebuah lagu yang ku kenal di masa kecil, tepatnya di bangku Sekolah Dasar. Lagu yang mengajariku untuk memahami negara tempat kelahiranku ini dengan pemahaman yang masih dangkal tentunya. Tapi cukup berarti bagi seorang anak sulung, yang menghabiskan masa kecilnya itu di kecamatan Samarinda Seberang Kalimantan Timur. Namun, tak sempat habis masa kecil itu, aku harus melanjutkan masa kecil sampai dewasa ini di sebuah pulau lain, bukan bagian tengah lagi, tempat asal sukuku(batak), Sumatera Utara.

Pulau yang masuk Wilayah Indonesia Bagian Barat ini mengenalkanku serentetan kisah hidup dan kisah alam.  Danau Toba dan Pulau Samosir yang tersohor itu, tentulah sudah kerap kali aku kunjungi, bahkan gunung Sinabung -gunung target pendakian nomor satu di Sumut sudah tiga kali aku singgahi. Daerah-daerah itu aku temui di masa-masa SMA dan aku kuliah dulu. Setelah aku berkerja, punya tabungan dan budget untuk jalan-jalan tentunya, aku merencanakan perjalanan selanjutnya. Aceh, menjadi pilihan aku dan teman-temanku menghabiskan libur plus liburan kejepit di bulan Mei kemarin.

Aku bersama satu orang teman lelaki dan seorang teman perempuan memulai perjalanan kami dari malam hari. Kami menggunakan jalur darat dari Medan menuju Aceh. Setelah 10 jam perjalanan, kami pun tiba pagi di Aceh langsung mencari sarapan di "Kedai Khopi" yang menjadi andalan di kota tersebut. Siang selesai berbenah kami pun siap menyebrang ke pulau Weh dengan menggunakan kapal ferry. Kapal tersebut menempuh 2 jam perjalanan. Dan tentu saja kami tidak menyia-nyiakan moment di kapal itu dengan menikmati pemandangan alam yang mengagumkan, langit yang cerah, laut nan indah apalagi ketika kami bisa melihat lumba-lumba yang sedang berenang secara langsung.  Foto-foto merekam semua yang telah kami saksikan bersama.

Setibanya di sana Pulau Weh kami langsung menuju monumen O KM, disanalah titik O KM Indonesia bagian barat. Kami tentu saja mengabadikannya dengan mengambil beberapa foto. Bukan saja di monumen, tapi bersama pemandangan laut yang berada di sekitar sana, pemandangan yang tak pernah ada di kota kami berangkat. Sebelum mahgrib kami pun menuju ke penginapan yang berada di daerah Iboih. Siti Rubiah namanya, penginapan yang terdiri dari dua lantai, dikemas ala-ala nature, dan berada tepat di depan laut itu yang utama. Malam itu pun kami menikmati makan malam, istirahat malam bersama suara deburan ombak, angin laut dan hati yang tenang.

Pagi disambut oleh mentari nan elok, pantai nan rupawan membuat jiwa ini terasa bahagia. Betapa aku bangga dan bersyukur ditempatkan di negeri yang kaya sumber daya alam ini. Tuhan menciptakan bumi pertiwi dengan begitu menakjubkan, tak berhenti hati ini mengucap syukur punya kesempatan menikmati semuanya. Setelah sarapan di dekat dermaga Iboih, kami pun segera meluncur dengan dua buah motor. Awalnya, memang kami bertiga dari Medan namun dari Aceh kami bersama teman kami yang sekaligus menjadi tour guide kami. Jadi,  perjalanan dengan motor menjadi pilihan yang paling tepat.

Sepanjang jalan di Pulau Weh dengan ibukota  Sabang ini, pemandangan laut  biru terbentang luas bukanlah pemandangan yang tak biasa lagi. Lagu dari sabang sampai merauke pun tak bosan kami nyanyikan bersama teman yang memboncengku sepanjang perjalanan. Kami mengunjungi beberapa tempat yang ada di sana seperti Benteng Jepang dan beberapa pantai. Dan ternyata di sekitar sabang masih banyak lagi pulau-pulau indah yang juga layak disamperin. Karena kurangnya waktu dan lain hal, kami pun hanya bertekad suatu saat nanti kami akan kunjungi satu per satu. Lalu, kami segera bergegas kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri kami demi snorkeling.

Kami pun telah siap untuk berpetualang dengan laut dan habitat yang ada di dalamnya. Kami berangkat dengan semua perlengkapan snorkeling dengan kapal ke sebuah pulau yang bernama Rubiah. Katanya, disana salah satu spot pilihan untuk melakukan snorkeling. Benar, sampai di sana banyak sekali pengunjung yang melakukan snorkeling. Walau hujan, namun tak mengurangi semangat kami. Walau ombak tinggi tak mengurangi jiwa petualang kami. Kami tetap melanjutkan snorkeling, melihat habitat  laut yang terkandung di pulau tersebut. Kami menemukan berbagai terumbu karang, bintang laut, berbagai jenis ikan (ada yang mirip ikan Nemo), ular laut, bulu babi dan beberapa yang aku tak ingat lagi namanya. Sebelumnya aku memang pernah snorkeling di Pulau tidung, kepulauan seribu, Jakarta. Menurutku, Pulau Rubiah ini lebih kaya habitat lautnya dari pada pulau Tidung.
1384347534854922180

Setelah lelah memandangidan merekam tingkah para habitat laut, kami pun istirahat di bawah pohon nyiur yang melambai sambil menikmati air kelapa muda. Apalagi, ada ayunan yang ditemani oleh semilir angin pantai. Sudah gelap, kami pun pulang dengan kapal yang ditumpangi oleh semua anggota keluarga pemilik kapal ke penginapan kami. Lalu, kami pun mandi dan makan malam dengan menu ikan bakar yang lezat. Kemudian, selesai makan malam kami kembali ke penginapan (tempat makan malam berbeda dengan penginapan). Sebelum sampai di penginapan kami pun berhenti sejenak di dermaga, memandangi laut dengan kerlipan hewan yang ada di laut-hewan yang bisa mengeluarkan cahaya. Tidak hanya laut, kami pun berbaring diatas kayu dermaga menghadap langit menyaksikan jutaan bintang. Kami melihat beberapa bintang jatuh dan menyaksikan bintang sedang menari bahagia. Hari yang sempurna pikirku, diatas laut dan suara ombaknya, di bawah langit sejuta bintang, ditemani hembusan angin pantai. Pagi yang ku awali dengan syukur dan malam ini pun ku akhiri dengan syukur tak henti kepada Sang Khalik. Sungguh, ciptaanNya membuatku terpesona.

Hati yang bahagia membuat malam istirahat pun semakin bahagia. Dan ketika pagi tiba, yang ku tahu bahwa hari ini kami akan kembali ke Aceh, tentu saja aku tak mau menyia-nyiakannya. Aku menyempatkan diri berenang sebentar di pantai depan penginapan pagi-pagi benar, dapat dihitung dengan jari hanya beberapa orang yang punya nyali berenang di pagi-pagi buta seperti itu. Setelah kami selesai berbenah dan packing dengan berat hati kami meninggalkan Iboih tanpa lupa mengabadikan moment di depan penginapan kami. Sesampainya di pelabuhan kami pun berangkat kembali menuju Aceh dengan kapal cepat, kapal ini memakan perjalaan lebih cepat 1 jam dari kapal ferry biasanya.

Aceh, kami kembali di kota ini. Museum tsunami menjadi tujuan kami setibanya kami disana, mencoba menelusuri kejadian tsunami melalui setiap detail yang ditawarkan disana. Lalu, tak lupa kami membeli beberapa kaos, stiker dari pusat oleh-oleh  khas Aceh yang bernama Mr.Piyoh-Piyoh. Makan siang, sedikit beres-beres kami pun kembali melanjutkan petualangan ke pantai Lampuuk yang tak jauh dari kota Banda Aceh. Pantainya luas sekali, ombaknya begitu memukau dan mengajakku meberanikan diri surfing tidur(berbaring telungkup di papan surfing dengan tali yang diikat di tangan). Pengalaman yang seru, aku diajari oleh abang-abang tukang sewain alat surfing dengan gratis. Hehehe.

Malam pun  tiba, kami pun harus kembali ke dunia nyata, ke medan perang untuk segera mengais rupiah lagi. Setibanya pagi di Medan kami merasa baru bangun dari mimpi yang sangat bahagia dan damai. Namun, harus kami hadapi supaya bisa menabung kembali untuk melanjutkan petualangan. Masih banyak kekayaan alam di luar sana yang sedang menunggu kami. Dari sabang sampai merauke.
1384347423436724661

Malam larut

Malam semakin larut
Hati semakin kalut
Pikiran semakin carut 
Aku pun semakin takut

Harusnya yang ku takuti maut
Tapi, kini hidup yang marut
Air mata membentuk laut
Perasaan ini bisakah dicabut?

Aku terbawa hanyut
Terbuka bebas bagai laut
Mimpi tak lagi ku ikut
Hidup tak mampu ku rajut


Dengan ragu di tengah kalut
Bimbang yang terpaut
Doa aku syairkan lewat mulut
PadaMu pemilik kasih yang tak surut

Tak mampu menamakannya

Aku tak mengenal diriku
Aku tak mengerti
Aku tak tahu pada siapa aku mengadu
Untuk mengungkapkannya pun aku tak mengerti
Untuk menamakannya pun  aku bingung
Untuk merasakan hanya aku yang mampu

Entahlah
Sampai kapan?
Sampai kapan aku akan dikasihani?
Sampai kapan aku akan merepotkan?
Sampai kapan aku seperti ini?


Dimana?
Dimana jalan keluar?
Dimana aku harus luapkan?
Arah mana yang harus aku ikuti?
Semua tampak buram
Meragu satu-satunya pilihan
Bimbang pun kuasai pikiran
Kacau sampai tak tertahan

Aku takut
Aku kalut
Aku carut marut
Takut rasanya untuk melangkah
Kaki ini ini pun kaku
Hati tak kuasa 
Entah apa yang sedang meraja

Hanya aku..
Hanya aku dan cerita
Mencoba mengerti dan menyatu
Walau hanya dalam bisu
Karena bisu pun adalah pilihan
Sampai aku menemukan jalan
Jalan kembali pulang